Tampilkan postingan dengan label suku bangsa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label suku bangsa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Mei 2014

Suku minang

Jumlah populasi
Kurang lebih 8 juta (2010)
Kawasan dengan populasi yang
signifikan
Indonesia
[1]
Sumatera Barat
4.281.439
Riau
624.145
Sumatera Utara
345.403
DKI Jakarta
305.538
Jawa Barat
202.203
Jambi
168.947
Kepulauan Riau
156.770
Banten
86.217
Bengkulu
73.333
Sumatera Selatan
69.996
Lampung
69.884
Malaysia
Negeri Sembilan
548.000
[2]
Bahasa
Bahasa Minang, Bahasa Indonesia,
dan Bahasa Melayu
Agama
Islam
Kelompok etnik terdekat
Melayu
Mandailing
Kerinci
Rejang
Minangkabau atau yang biasa
disingkat Minang adalah kelompok
etnis Nusantara yang berbahasa dan
menjunjung adat Minangkabau.
Wilayah penganut kebudayaannya
meliputi Sumatera Barat , separuh
daratan Riau, bagian utara
Bengkulu, bagian barat Jambi, pantai
barat Sumatera Utara, barat daya
Aceh , dan juga Negeri Sembilan di
Malaysia .[3] Dalam percakapan
awam, orang Minang seringkali
disamakan sebagai orang Padang,
merujuk kepada nama ibu kota
provinsi Sumatera Barat yaitu kota
Padang. Namun, masyarakat ini
biasanya akan menyebut
kelompoknya dengan sebutan urang
awak , yang bermaksud sama dengan
orang Minang itu sendiri. [4]
Menurut A.A. Navis , Minangkabau
lebih kepada kultur etnis dari suatu
rumpun Melayu yang tumbuh dan
besar karena sistem monarki, [5]
serta menganut sistem adat yang
khas, yang dicirikan dengan sistem
kekeluargaan melalui jalur
perempuan atau matrilineal,[6]
walaupun budayanya juga sangat
kuat diwarnai ajaran agama Islam,
sedangkan Thomas Stamford Raffles ,
setelah melakukan ekspedisi ke
pedalaman Minangkabau tempat
kedudukan Kerajaan Pagaruyung,
menyatakan bahwa Minangkabau
adalah sumber kekuatan dan asal
bangsa Melayu , yang kemudian
penduduknya tersebar luas di
Kepulauan Timur. [7]
Saat ini masyarakat Minang
merupakan masyarakat penganut
matrilineal terbesar di dunia.[8][9]
Selain itu, etnis ini juga telah
menerapkan sistem proto- demokrasi
sejak masa pra- Hindu dengan
adanya kerapatan adat untuk
menentukan hal-hal penting dan
permasalahan hukum. Prinsip adat
Minangkabau tertuang singkat dalam
pernyataan Adat basandi syarak,
syarak basandi Kitabullah (Adat
bersendikan hukum, hukum
bersendikan Al-Qur'an ) yang berarti
adat berlandaskan ajaran Islam.[10]
Orang Minangkabau sangat menonjol
di bidang perniagaan, sebagai
profesional dan intelektual. Mereka
merupakan pewaris terhormat dari
tradisi tua Kerajaan Melayu dan
Sriwijaya yang gemar berdagang dan
dinamis. [11] Hampir separuh jumlah
keseluruhan anggota masyarakat ini
berada dalam perantauan. Minang
perantauan pada umumnya
bermukim di kota-kota besar, seperti
Jakarta , Bandung , Pekanbaru , Medan,
Batam, Palembang, dan Surabaya. Di
luar wilayah Indonesia, etnis Minang
banyak terdapat di Kuala Lumpur ,
Seremban, Singapura , Jeddah ,
Sydney ,[12] dan Melbourne . [13]
Masyarakat Minang memiliki
masakan khas yang populer dengan
sebutan masakan Padang, dan
sangat digemari di Indonesia bahkan
sampai mancanegara. [14]
Etimologi
Peta yang menunjukan wilayah
penganut kebudayaan Minangkabau
di pulau Sumatera (warna: kuning
tua).
Nama Minangkabau berasal dari dua
kata, minang dan kabau. Nama itu
dikaitkan dengan suatu legenda khas
Minang yang dikenal di dalam
tambo. Dari tambo tersebut, konon
pada suatu masa ada satu kerajaan
asing (biasa ditafsirkan sebagai
Majapahit ) yang datang dari laut
akan melakukan penaklukan. Untuk
mencegah pertempuran, masyarakat
setempat mengusulkan untuk
mengadu kerbau. Pasukan asing
tersebut menyetujui dan
menyediakan seekor kerbau yang
besar dan agresif, sedangkan
masyarakat setempat menyediakan
seekor anak kerbau yang lapar.
Dalam pertempuran, anak kerbau
yang lapar itu menyangka kerbau
besar tersebut adalah induknya.
Maka anak kerbau itu langsung
berlari mencari susu dan menanduk
hingga mencabik-cabik perut kerbau
besar tersebut. Kemenangan itu
menginspirasikan masyarakat
setempat memakai nama
Minangkabau, [15] yang berasal dari
ucapan " Manang kabau" (artinya
menang kerbau). Kisah tambo ini
juga dijumpai dalam Hikayat Raja-
raja Pasai dan juga menyebutkan
bahwa kemenangan itu menjadikan
negeri yang sebelumnya bernama
Periaman ( Pariaman) menggunakan
nama tersebut. [16] Selanjutnya
penggunaan nama Minangkabau
juga digunakan untuk menyebut
sebuah nagari , yaitu Nagari
Minangkabau, yang terletak di
kecamatan Sungayang , kabupaten
Tanah Datar, provinsi Sumatera
Barat .
Dalam catatan sejarah kerajaan
Majapahit , Nagarakretagama [17]
bertarikh 1365, juga telah
menyebutkan nama Minangkabwa
sebagai salah satu dari negeri
Melayu yang ditaklukannya. Begitu
juga dalam Tawarikh Ming tahun
1405 , terdapat nama kerajaan Mi-
nang-ge-bu dari enam kerajaan yang
mengirimkan utusan menghadap
kepada Kaisar Yongle di Nanjing.[18]
Di sisi lain, nama "Minang" (kerajaan
Minanga ) itu sendiri juga telah
disebutkan dalam Prasasti Kedukan
Bukit tahun 682 dan ber bahasa
Sanskerta. Dalam prasasti itu
dinyatakan bahwa pendiri kerajaan
Sriwijaya yang bernama Dapunta
Hyang bertolak dari "Minānga" ....
[19] Beberapa ahli yang merujuk dari
sumber prasasti itu menduga, kata
baris ke-4 (...minānga) dan ke-5
(tāmvan....) sebenarnya tergabung,
sehingga menjadi mināngatāmvan
dan diterjemahkan dengan makna
sungai kembar. Sungai kembar yang
dimaksud diduga menunjuk kepada
pertemuan (temu) dua sumber aliran
Sungai Kampar, yaitu Sungai Kampar
Kiri dan Sungai Kampar Kanan .[20]
Namun pendapat ini dibantah oleh
Casparis, yang membuktikan bahwa
"tāmvan" tidak ada hubungannya
dengan "temu", karena kata temu
dan muara juga dijumpai pada
prasasti-prasasti peninggalan zaman
Sriwijaya yang lainnya. [21] Oleh
karena itu kata Minanga berdiri
sendiri dan identik dengan
penyebutan Minang itu sendiri.
Bendera atau marawa yang
digunakan suku-suku Minangkabau.
Asal usul
Lihat pula: Tambo Minangkabau
dan Tombo Lubuk Jambi
Dari tambo yang diterima secara
turun temurun, menceritakan bahwa
nenek moyang mereka berasal dari
keturunan Iskandar Zulkarnain .
Walau tambo tersebut tidak
tersusun secara sistematis dan lebih
kepada legenda berbanding fakta
serta cendrung kepada sebuah karya
sastra yang sudah menjadi milik
masyarakat banyak. [5] Namun
demikian kisah tambo ini sedikit
banyaknya dapat dibandingkan
dengan Sulalatus Salatin yang juga
menceritakan bagaimana masyarakat
Minangkabau mengutus wakilnya
untuk meminta Sang Sapurba salah
seorang keturunan Iskandar
Zulkarnain tersebut untuk menjadi
raja mereka.

Sumber: wikipedia

Suku melayu

Jumlah populasi
2010: Diperkirakan 27,8 juta.
Kawasan dengan populasi yang
signifikan
Brunei , Indonesia, Malaysia ,
Thailand , Singapura ,
Penduduk mayoritas
Malaysia
15 juta (Perkiraan 2006)
[1]
Brunei
0.25 juta (Perkiraan 2006)
[2]
Penduduk minoritas
Indonesia
8,8 juta (perkiraan 2010)
[3][4]
Thailand
7.9 juta (Perkiraan 2006)
[5]
Singapura
0.65 juta (Sensus 2000)
[6]
Bahasa
Bahasa Indonesia, Bahasa Melayu ,
Bahasa Melayu Bengkulu, Bahasa
Melayu Jambi, Bahasa Melayu
Palembang, Bahasa Melayu Riau ,
Bahasa Melayu Pontianak , Bahasa
Melayu Kedah, Bahasa Melayu
Brunei , Bahasa Melayu Kelantan ,
Bahasa Melayu Terengganu ,
Bahasa Melayu Sarawak
Agama
Islam
Kelompok etnik terdekat
Aceh, Minangkabau, Banjar
Wanita Melayu di Kutai dikenali dari
bentuk khas sanggulnya (litografi
oleh C. F. Kelley berdasarkan gambar
oleh Carl Bock , tahun 1887)
Suku Melayu[7][8] adalah nama
yang menunjuk pada suatu kelompok
yang ciri utamanya adalah
penuturan bahasa Melayu . Suku
Melayu bermukim di sebagian besar
Malaysia, pesisir timur Sumatera,
sekeliling pesisir Kalimantan,
Thailand Selatan, serta pulau-pulau
kecil yang terbentang sepanjang
Selat Malaka dan Selat Karimata . Di
Indonesia, jumlah suku Melayu
sekitar 15% dari seluruh populasi,
yang sebagian besar mendiami
provinsi Sumatera Utara, Riau ,
Kepulauan Riau , Jambi , Sumatera
Selatan, Bangka Belitung , dan
Kalimantan Barat .[9]
Meskipun begitu, banyak pula
masyarakat Minangkabau ,
Mandailing, dan Dayak yang
berpindah ke wilayah pesisir timur
Sumatra dan pantai barat
Kalimantan, mengaku sebagai orang
Melayu. Selain di Nusantara, suku
Melayu juga terdapat di Sri Lanka,
Kepulauan Cocos (Keeling) (Cocos
Malays ), dan Afrika Selatan ( Cape
Malays ).
Sejarah
Nama "Malayu" berasal dari Kerajaan
Malayu yang pernah ada di kawasan
Sungai Batang Hari . Dalam
perkembangannya, Kerajaan Melayu
akhirnya takluk dan menjadi
bawahan Kerajaan Sriwijaya. [10]
Pemakaian istilah Melayu-pun
meluas hingga ke luar Sumatera,
mengikuti teritorial imperium
Sriwijaya yang berkembang hingga
ke Jawa, Kalimantan, dan
Semenanjung Malaya . Jadi orang
Melayu Semenanjung berasal dari
Sumatera. [11]
Berdasarkan prasasti Keping
Tembaga Laguna , pedagang Melayu
telah berdagang ke seluruh wilayah
Asia Tenggara, juga turut serta
membawa adat budaya dan Bahasa
Melayu pada kawasan tersebut.
Bahasa Melayu akhirnya menjadi
lingua franca menggantikan Bahasa
Sanskerta. [12] Era kejayaan Sriwijaya
merupakan masa emas bagi
peradaban Melayu, termasuk pada
masa wangsa Sailendra di Jawa,
kemudian dilanjutkan oleh kerajaan
Dharmasraya sampai pada abad
ke-14, dan terus berkembang pada
masa Kesultanan Malaka [13][14][15]
sebelum kerajaan ini ditaklukan oleh
kekuatan tentara Portugis pada
tahun 1511.
Masuknya agama Islam ke Nusantara
pada abad ke-12, diserap baik-baik
oleh masyarakat Melayu. Islamisasi
tidak hanya terjadi di kalangan
masyarakat jelata, namun telah
menjadi corak pemerintahan
kerajaan-kerajaan Melayu. Di antara
kerajaan-kerajaan tersebut ialah
Kesultanan Johor , Kesultanan Perak ,
Kesultanan Pahang, Kesultanan
Brunei , dan Kesultanan Siak .
Kedatangan kolonialis Eropa telah
menyebabkan terdiasporanya orang-
orang Melayu ke seluruh Nusantara,
Sri Lanka, dan Afrika Selatan. Di
perantauan, mereka banyak mengisi
pos-pos kerajaan seperti menjadi
syahbandar, ulama, dan hakim.
Dalam perkembangan selanjutnya,
hampir seluruh Kepulauan
Nusantara mendapatkan pengaruh
langsung dari Suku Melayu. Bahasa
Melayu yang telah berkembang dan
dipakai oleh banyak masyarakat
Nusantara, akhirnya dipilih menjadi
bahasa nasional Indonesia , Malaysia,
dan Brunei .
Etimologi
Ptolemy (90 - 168 M) dalam karyanya
Geographia mencatat sebuah
tanjung di Aurea Chersonesus
(Semenanjung Melayu) yang
bernama Maleu-kolon , yang diyakini
berasal dari Bahasa Sanskerta ,
malayakolam atau malaikurram [16] .
Berdasarkan G. E. Gerini, Maleu-
Kolon saat ini merujuk pada Tanjung
Kuantan atau Tanjung Penyabung di
Semenanjung Malaysia.
Orang Gunung
Pada Bab 48 teks agama Hindu Vuya
Purana yang berbahasa Sanskerta,
kata Malayadvipa merujuk kepada
sebuah provinsi di pulau yang kaya
emas dan perak. Disana berdiri
bukit yang disebut dengan Malaya
yang artinya sebuah gunung besar
(Mahamalaya ). Meskipun begitu
banyak sarjana Barat, antara lain Sir
Roland Braddell menyamakan
Malayadvipa dengan Sumatera [17] .
Sedangkan para sarjana India
percaya bahwa itu merujuk pada
beberapa gunung di Semenanjung
Malaysia [18][19][20][21][22] .
Kerajaan Malayu
Dari catatan Yi Jing, seorang pendeta
Budha dari Dinasti Tang , yang
berkunjung ke Nusantara antara
tahun 688 - 695, dia menyebutkan
ada sebuah kerajaan yang dikenal
dengan Mo-Lo-Yu (Melayu), yang
berjarak 15 hari pelayaran dari
Sriwijaya . Dari Ka-Cha (Kedah),
jaraknyapun 15 hari pelayaran. [23]
Berdasarkan catatan Yi Jing, kerajaan
tersebut merupakan negara yang
merdeka dan akhirnya ditaklukkan
oleh Sriwijaya.
Berdasarkan Prasasti Padang Roco
(1286) di Sumatera Barat , ditemukan
kata-kata bhumi malayu dengan ibu
kotanya di Dharmasraya. Kerajaan ini
merupakan kelanjutan dari Kerajaan
Malayu dan Sriwijaya yang telah ada
di Sumatra sejak abad ke-7.
Kemudian Adityawarman
memindahkan ibu kota kerajaan ini
ke wilayah pedalaman di
Pagaruyung.
Petualang Venesia yang terkenal,
Marco Polo dalam bukunya Travels of
Marco Polo menyebutkan tentang
Malauir yang berlokasi di bagian
selatan Semenanjung Melayu. Kata
"Melayu" dipopulerkan oleh
Kesultanan Malaka yang digunakan
untuk membenturkan kultur Malaka
dengan kultur asing yakni Jawa dan
Thai. [24] Dalam perjalanannya,
Malaka tidak hanya tercatat sebagai
pusat perdagangan yang dominan,
namun juga sebagai pusat
peradaban Melayu yang
berpengaruh luas. [25]
Melayu Malaysia
Artikel utama untuk bagian ini
adalah: Masyarakat Melayu di
Malaysia
Seorang penari mempersembahkan
tarian Ulek Mayang, sebuah
persembahan tarian dari
Terengganu , Malaysia.
Melayu Malaysia yang disebut Kaum
Melayu adalah masyarakat Melayu
berintikan orang Melayu asli tanah
Semenanjung Malaya (Melayu Anak
Jati), ditambah suku-suku pendatang
dari Indonesia dan tempat lainnya
yang disebut Melayu Anak Dagang
seperti Jawa , Minangkabau , Riau,
Mandailing, Aceh , Bugis, Bawean,
Banjar , Champa dan lain-lain. Semua
diikat oleh agama Islam dan budaya
Melayu Malaysia . Ras lain yang
beragama Islam juga dikategorikan
Kaum Melayu, seperti Tionghoa
Muslim, India Muslim, dan Arab.
Sehingga Melayu juga berarti
etnoreligius yang merupakan
"komunitas umat Islam Malaysia"
yang ada di Kerajaan Islam tersebut,
karena jika ada konsep Sultan
(umara) berarti juga ada ummat
yang dilindunginya.

Sumber : wikipedia

Suku jawa

Jumlah populasi
± 100.000.000 (2009)
Kawasan dengan populasi yang
signifikan
Indonesia
95.217.022
[1]
Jawa Tengah
31.560.859
Jawa Timur
30.019.156
Jawa Barat
5.710.652
Lampung
4.856.924
Sumatera Utara
4.319.719
Jakarta
3.453.453
Yogyakarta
3.331.355
Sumatera Selatan
2.037.715
Banten
1.657.470
Riau
1.608.268
Kalimantan Timur
1.069.826
Jambi
893.156
Kalimantan Selatan
524.357
Kalimantan Tengah
478.434
Kalimantan Barat
427.333
Kepulauan Riau
417.438
Aceh
400.023
Bengkulu
387.281
Bali
372.514
Papua
233.145
Sulawesi Selatan
229.074
Sulawesi Tengah
221.001
Sumatera Barat
217.096
Sulawesi Tenggara
159.170
Papua Barat
111.274
Bangka Belitung
101.655
Maluku
79.340
Nusa Tenggara Barat
78.916
Sulawesi Utara
70.934
Sulawesi Barat
56.960
Nusa Tenggara Timur
54.511
Maluku Utara
42.724
Bahasa
Jawa , Indonesia, Melayu
(dituturkan oleh komunitas yang
berdomisili di Malaysia dan
Singapura ), Belanda (hanya
digunakan oleh yang tinggal di
Belanda dan Suriname)
Agama
Islam, Kristen (termasuk Katolik
dan Protestan), Kejawen , Hindu ,
Buddha dan Konghucu[2] (semua
resmi).
Kelompok etnik terdekat
suku Sunda , suku Madura , suku
Bali. [rujukan? ]
Seorang gadis Jawa di sekitar tahun
1900
Suku Jawa ( Jawa ngoko: ꦮꦺꦴꦁꦗꦮ wong
Jawa , Jawa krama: ꦠꦶꦲꦾꦁꦗꦮꦶ tiyang
Jawi) merupakan suku bangsa
terbesar di Indonesia yang berasal
dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan
Yogyakarta . Setidaknya 41,7%
penduduk Indonesia merupakan
etnis Jawa. [3] Selain di ketiga
provinsi tersebut, suku Jawa banyak
bermukim di Lampung, Banten ,
Jakarta , dan Sumatera Utara. Di Jawa
Barat mereka banyak ditemukan di
Kabupaten Indramayu dan Cirebon .
Suku Jawa juga memiliki sub-suku,
seperti suku Osing, orang Samin,
suku Bawean/Boyan, Naga, Nagaring ,
suku Tengger, dan lain-lain. [4]
Selain itu, suku Jawa ada pula yang
berada di negara Suriname, Amerika
Tengah karena pada masa kolonial
Belanda suku ini dibawa ke sana
sebagai pekerja dan kini suku Jawa
di sana dikenal sebagai Jawa
Suriname.
Bahasa
Artikel utama untuk bagian ini
adalah: Bahasa Jawa
Suku bangsa Jawa sebagian besar
menggunakan bahasa Jawa dalam
bertutur sehari-hari. Dalam sebuah
survei yang diadakan majalah Tempo
pada awal dasawarsa 1990-an,
kurang lebih hanya 12% orang Jawa
yang menggunakan bahasa
Indonesia sebagai bahasa mereka
sehari-hari, sekitar 18%
menggunakan bahasa Jawa dan
Indonesia secara campur, dan
selebihnya hanya menggunakan
bahasa Jawa saja.
Bahasa Jawa memiliki aturan
perbedaan kosa kata dan intonasi
berdasarkan hubungan antara
pembicara dan lawan bicara, yang
dikenal dengan unggah-ungguh .
Aspek kebahasaan ini memiliki
pengaruh sosial yang kuat dalam
budaya Jawa, dan membuat orang
Jawa biasanya sangat sadar akan
status sosialnya di masyarakat.
Budaya Jawa
Artikel utama untuk bagian ini
adalah: Budaya Jawa
Budaya Jawa adalah budaya yang
berasal dari Jawa dan dianut oleh
masyarakat Jawa khususnya di Jawa
Tengah, DIY dan Jawa Timur . Budaya
Jawa secara garis besar dapat dibagi
menjadi 3 yaitu budaya
Banyumasan, budaya Jawa Tengah-
DIY dan budaya Jawa Timur. Budaya
Jawa mengutamakan keseimbangan,
keselarasan dan keserasian dalam
kehidupan sehari hari. Budaya Jawa
menjunjung tinggi kesopanan dan
kesederhanaan. Budaya Jawa selain
terdapat di Jawa Tengah, DIY dan
Jawa Timur terdapat juga di daerah
perantauan orang Jawa yaitu di
Jakarta , Sumatera dan Suriname.
Bahkan budaya Jawa termasuk salah
satu budaya di Indonesia yang
paling banyak diminati di luar
negeri. Beberapa budaya Jawa yang
diminati di luar negeri adalah
Wayang Kulit, Keris , Batik dan
Gamelan . Di Malaysia dan Filipina
dikenal istilah keris karena pengaruh
Majapahit .[5] LSM Kampung
Halaman dari Yogyakarta yang
menggunakan wayang remaja adalah
LSM Asia pertama yang menerima
penghargaan seni dari AS tahun
2011. [6] [7] Gamelan Jawa menjadi
pelajaran wajib di AS, Singapura dan
Selandia Baru. [8] [9] Gamelan Jawa
rutin digelar di AS-Eropa atas
permintaan warga AS-Eropa. [10]
Sastra Jawa Negarakretagama
menjadi satu satunya karya sastra
Indonesia yang diakui UNESCO
sebagai Memori Dunia. [11] Menurut
Guru Besar Arkeologi Asia Tenggara
National University of Singapore John
N. Miksic jangkauan kekuasaan
Majapahit meliputi Sumatera dan
Singapura bahkan Thailand yang
dibuktikan dengan pengaruh
kebudayaan, corak bangunan, candi,
patung dan seni. [12] Budaya Jawa
termasuk unik karena membagi
tingkat bahasa Jawa menjadi
beberapa tingkat yaitu Ngoko, Madya
Krama.
Kepercayaan
Orang Jawa sebagian besar secara
nominal menganut agama Islam.
Tetapi ada juga yang menganut
agama Protestan dan Katolik . Mereka
juga terdapat di daerah pedesaan.
Penganut agama Buddha dan Hindu
juga ditemukan pula di antara
masyarakat Jawa. Ada pula filsafat
suku Jawa yang disebut sebagai
filsafat Kejawen .[13] filsafat ini
berbeda dengan Taoisme dan
Konfusianisme yang tidak memeluk
agama tertentu, kejawen merupakan
filsafat yang memperbolehkan
bahkan menganjurkan untuk
memeluk agama. ada pula kaum
Abangan yang nominal menganut
islam namun dalam praktiknya
masih banyak terpengaruh animisme
dengan pengaruh Hindu-Buddha
yang kuat. Masyarakat Jawa terkenal
akan sifat sinkretisme
kepercayaannya. Semua budaya luar
diserap dan ditafsirkan menurut
nilai-nilai Jawa dikarenakan memiliki
filsafat kejawen yang dianggap
sebagai pengontrol dan melindungi
jatidirinya sebagai Orang Jawa.
Profesi
Mayoritas masyarakat Jawa berprofesi
sebagai petani. Sedangkan di
perkotaan mereka berprofesi sebagai
pegawai negeri sipil, karyawan,
pedagang, usahawan, dan lain-lain.
Masyarakat Jawa juga banyak yang
bekerja di luar negeri, masyarakat
Jawa mendominasi tenaga kerja
Indonesia di luar negeri terutama di
negara Malaysia, Singapura, Filipina,
Jepang, Arab Saudi, Kuwait, Qatar,
Uni Emirat Arab, Taiwan, Amerika
Serikat, dan Eropa. Orang Jawa juga
banyak yang menjadi pengusaha
Jawa terutama di Jateng, DIY dan
Jatim.
Stratifikasi sosial
Masyarakat Jawa juga terkenal akan
pembagian golongan-golongan
sosialnya. Pakar antropologi Amerika
yang ternama, Clifford Geertz, pada
tahun 1960-an membagi masyarakat
Jawa menjadi tiga kelompok: kaum
santri, abangan , dan priyayi .
Menurutnya kaum santri adalah
penganut agama Islam yang taat,
kaum abangan adalah penganut
Islam secara nominal atau penganut
Kejawen, sedangkan kaum Priyayi
adalah kaum bangsawan. Tetapi
dewasa ini pendapat Geertz banyak
ditentang karena ia mencampur
golongan sosial dengan golongan
kepercayaan. Kategorisasi sosial ini
juga sulit diterapkan dalam
menggolongkan orang-orang luar,
misalkan orang Indonesia lainnya
dan suku bangsa non-pribumi
seperti orang keturunan Arab,
Tionghoa, dan India .
Seni
Orang Jawa terkenal dengan budaya
seninya yang terutama dipengaruhi
oleh agama Hindu-Buddha, yaitu
pementasan wayang. Repertoar
cerita wayang atau lakon sebagian
besar berdasarkan wiracarita
Ramayana dan Mahabharata . Selain
pengaruh India, pengaruh Islam dan
Dunia Barat ada pula. Seni batik
dan keris merupakan dua bentuk
ekspresi masyarakat Jawa. Musik
gamelan , yang juga dijumpai di Bali
memegang peranan penting dalam
kehidupan budaya dan tradisi Jawa.
Tokoh-tokoh Jawa
Artikel utama untuk bagian ini
adalah: Daftar tokoh Jawa
Abdurrahman Wahid , Mantan
Presiden Republik Indonesia.
Ahmad Dahlan , Ulama (Kyai) dan
pendiri organisasi
Muhammadiyah.
Boediono, Wakil Presiden
Republik Indonesia.
Hasyim Asyari, Pendiri Nahdatul
Ulama.
HM. Soeharto , Mantan Presiden
Republik Indonesia.
Joko Widodo, Gubernur DKI
Jakarta
Julius Darmaatmadja, Uskup
Agung Jakarta dan Mantan Ketua
KWI (Konferensi Waligereja
Indonesia ) 2000-2006.
Khofifah Indar Parawansa ,
Politikus dan Mantan Menteri
Negara Pemberdayaan
Perempuan.
Megawati Soekarno Poetri,
Mantan presiden republik
indonesia dan sekaligus presiden
wanita pertama di Indonesia
Nurcholish Madjid, Cendekiawan
dan budayawan.
Paul Salam Soemohardjo, Ketua
Parlemen Suriname dan Ketua
Partai Pertjaja Luhur di Suriname.
Purnomo Yusgiantoro , Menteri
Energi dan Sumberdaya Mineral.
RA. Kartini , Pahlawan Nasional.
Saifullah Yusuf, Mantan Menteri
Negara Percepatan Pembangunan
Daerah Tertinggal. Sekarang
menjabat Wakil Gubernur Jawa
Timur.
Soekarno , Proklamator dan
mantan Presiden Republik
Indonesia.
Susilo Bambang Yudhoyono,
Presiden Republik Indonesia.
Wage Rudolf Supratman, Pencipta
lagu "Indonesia Raya".
Wahid Hasjim , Pahlawan nasional
Indonesia dan menteri negara
dalam kabinet pertama Indonesia
Hidayat Nur Wahid , Mantan Ketua
MPR RI periode tahun 2004
-2009.

Sumber : wikipefia

Suku sunda


Jumlah populasi
Setidaknya 36.701.670 jiwa[1] di
Indonesia
Kawasan dengan populasi yang
signifikan
Jawa
Jawa Barat
31.743.517
Banten
2.411.937
DKI Jakarta
1.555.646
Jawa Tengah
339.997
Jawa Timur
41.224
Sumatera
Lampung
675.270
Sumatera Selatan
182.535
Riau
93.598
Kalimantan
Kalimantan Barat
53.191
Sulawesi
Sulawesi Tenggara
25.228
Papua
Papua
28.597
Bahasa
Bahasa Sunda, Bahasa Betawi dan
Bahasa Indonesia .
Agama
Mayoritas Islam, namun ada sedikit
yang beragama Sunda Wiwitan,
Hindu dan Kristen
Kelompok etnik terdekat
Suku Jawa, Suku Banten , Suku
Cirebon, Suku Baduy dan Suku
Betawi .
Wanita Sunda pemetik teh di masa
Hindia Belanda
Suku Sunda adalah kelompok etnis
yang berasal dari bagian barat pulau
Jawa, Indonesia , dengan istilah Tatar
Pasundan yang mencakup wilayah
administrasi provinsi Jawa Barat ,
Banten , Jakarta, Lampung dan
wilayah barat Jawa Tengah
(Banyumasan ). Suku Sunda
merupakan etnis kedua terbesar di
Indonesia. Sekurang-kurangnya
15,2% penduduk Indonesia
merupakan orang Sunda. Jika Suku
Banten dikategorikan sebagai sub
suku Sunda maka 17,8% penduduk
Indonesia merupakan orang Sunda.
Mayoritas orang Sunda beragama
Islam, akan tetapi ada juga sebagian
kecil yang beragama kristen, Hindu ,
dan Sunda Wiwitan /Jati Sunda.
Agama Sunda Wiwitan masih
bertahan di beberapa komunitas
pedesaan suku Sunda, seperti di
Kuningan dan masyarakat suku
Baduy di Lebak Banten yang
berkerabat dekat dan dapat
dikategorikan sebagai suku Sunda.
Jati diri yang mempersatukan orang
Sunda adalah bahasanya dan
budayanya. Orang Sunda dikenal
memiliki sifat optimistis, ramah,
sopan, dan riang. [2] Orang Portugis
mencatat dalam Suma Oriental
bahwa orang sunda bersifat jujur
dan pemberani. Orang sunda juga
adalah yang pertama kali melakukan
hubungan diplomatik secara sejajar
dengan bangsa lain. Sang Hyang
Surawisesa atau Raja Samian adalah
raja pertama di Nusantara yang
melakukan hubungan diplomatik
dengan Bangsa lain pada abad ke 15
dengan orang Portugis di Malaka .
Hasil dari diplomasinya dituangkan
dalam Prasasti Perjanjian Sunda-
Portugal . Beberapa tokoh Sunda juga
menjabat Menteri dan pernah
menjadi wakil Presiden pada kabinet
RI.
Disamping prestasi dalam bidang
politik (khususnya pada awal masa
kemerdekaan Indonesia) dan
ekonomi, prestasi yang cukup
membanggakan adalah pada bidang
budaya yaitu banyaknya penyanyi,
musisi, aktor dan aktris dari etnis
Sunda, yang memiliki prestasi di
tingkat nasional, maupun
internasional. [3]
Etimologi
Menurut Rouffaer (1905: 16)
menyatakan bahwa kata Sunda
berasal dari akar kata sund atau kata
suddha dalam bahasa Sansekerta
yang mempunyai pengertian
bersinar, terang, berkilau, putih
(Williams, 1872: 1128, Eringa, 1949:
289). Dalam bahasa Jawa Kuno
(Kawi) dan bahasa Bali pun terdapat
kata Sunda, dengan pengertian:
bersih, suci, murni, tak tercela/
bernoda, air, tumpukan, pangkat,
waspada (Anandakusuma, 1986:
185-186; Mardiwarsito, 1990:
569-570; Winter, 1928: 219). Orang
Sunda meyakini bahwa memiliki etos
atau karakter Kasundaan, sebagai
jalan menuju keutamaan hidup.
Karakter Sunda yang dimaksud
adalah cageur (sehat), bageur (baik),
bener (benar), singer (mawas diri),
dan pinter (cerdas). Karakter ini
telah dijalankan oleh masyarakat
yang bermukim di Jawa bagian barat
sejak zaman kerajaan Kerajaan
Salakanagara, Kerajaan
Tarumanagara , Kerajaan Sunda-
Galuh, Kerajaan Pajajaran hingga
sekarang.
Nama Sunda mulai digunakan oleh
raja Purnawarman pada tahun 397
untuk menyebut ibukota Kerajaan
Tarumanagara yang didirikannya.
Untuk mengembalikan pamor
Tarumanagara yang semakin
menurun, pada tahun 670,
Tarusbawa, penguasa Tarumanagara
yang ke-13, mengganti nama
Tarumanagara menjadi Kerajaan
Sunda. Kemudian peristiwa ini
dijadikan alasan oleh Kerajaan Galuh
untuk memisahkan negaranya dari
kekuasaan Tarusbawa. Dalam posisi
lemah dan ingin menghindarkan
perang saudara, Tarusbawa
menerima tuntutan raja Galuh.
Akhirnya kawasan Tarumanagara
dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu
Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh
dengan Sungai Citarum sebagai
batasnya.
Peta linguistik Jawa Barat
Pandangan Hidup
Selain agama yang dijadikan
pandangan hidup, orang Sunda juga
mempunyai pandangan hidup yang
diwariskan oleh nenek moyangnya.
Pandangan hidup tersebut tidak
bertentangan dengan agama yang
dianutnya karena secara tersurat
dan tersirat dikandung juga dalam
ajaran agamanya, khususnya ajaran
agama Islam. Pandangan hidup
orang Sunda yang diwariskan dari
nenek moyangnya dapat diamati
pada ungkapan tradisional, juga dari
naskah kuno. [4]
Hubungan antara sesama manusia
Hubungan antara manusia dengan
sesama manusia dalam masyarakat
Sunda pada dasarnya harus
dilandasi oleh sikap “silih asih, silih
asah, dan silih asuh” , artinya harus
saling mengasihi, saling mengasah
atau mengajari, dan saling
mengasuh sehingga tercipta suasana
kehidupan masyarakat yang diwarnai
keakraban, kerukunan, kedamaian,
ketentraman, dan kekeluargaan,
seperti tampak pada ungkapan-
ungkapan berikut ini:
Kawas gula eujeung peueut yang
artinya hidup harus rukun saling
menyayangi, tidak pernah
berselisih.
Mulah marebutkeun balung
tanpa eusi yang artinya jangan
memperebutkan perkara yang
tidak ada gunanya.
Mulah ngaliarkeun taleus ateul
yang artinya jangan menyebarkan
perkara yang dapat menimbulkan
keburukan atau keresahan.
Mulah nyolok panon buncelik
yang artinya jangan berbuat
sesuatu di hadapan orang lain
dengan maksud mempermalukan.
Buruk-buruk papan jati yang
artinya berapapun besar
kesalahan saudara atau sahabat,
mereka tetap saudara kita, orang
tua tentu dapat mengampuninya.
Hubungan antara manusia dengan
negara dan bangsanya
Hubungan antara manusia dengan
negara dan bangsanya, menurut
pandangan hidup orang Sunda,
hendaknya didasari oleh sikap yang
menjunjung tinggi hukum, membela
negara, dan menyuarakan hati
nurani rakyat. Pada dasarnya, tujuan
hukum yang berupa hasrat untuk
mengembalikan rasa keadilan, yang
bersifat menjaga keadaan, dan
menjaga solidaritas sosial dalam
masyarakat. Masalah ini dalam
masyarakat Sunda terpancar dalam
ungkapan-ungkapan:
Kudu nyanghulu ka hukum,
nunjang ka nagara, mupakat ka
balareya (harus menjunjung
tinggi hukum, berpijak kepada
ketentuan negara, dan
bermupakat kepada kehendak
rakyat.
Bengkung ngariung bongkok
ngaronyok (bersama-sama dalam
suka dan duka).
Nyuhunkeun bobot pangayon
timbang taraju (memohon
pertimbangan dan kebijaksanaan
yang seadil-adilnya, memohon
ampun)
Bahasa
Artikel utama untuk bagian ini
adalah: Bahasa Sunda
Dalam percakapan sehari-hari, etnis
Sunda banyak menggunakan bahasa
Sunda. Namun kini telah banyak
masyarakat Sunda terutama yang
tinggal di perkotaan tidak lagi
menggunakan bahasa Sunda dalam
bertutur kata. [5] Seperti yang terjadi
di pusat-pusat keramaian kota
Bandung , Bogor, dan Tangerang ,
dimana banyak masyarakat yang
tidak lagi menggunakan bahasa
Sunda.
Ada beberapa dialek dalam bahasa
Sunda, mulai dari dialek Sunda-
Banten, hingga dialek Sunda-Jawa
Tengahan yang mulai tercampur
bahasa Jawa. Para pakar bahasa
biasanya membedakan enam dialek
berbeda. Dialek-dialek ini adalah:
Dialek Barat ( Bahasa Sunda
Banten )
Dialek Utara
Dialek Selatan (Priangan)
Dialek Tengah Timur
Dialek Timur Laut ( Bahasa Sunda
Cirebon)
Dialek Tenggara
Dialek Barat dipertuturkan di daerah
Banten dan Lampung. Dialek Utara
mencakup daerah Sunda utara
termasuk kota Bogor dan beberapa
daerah Pantura. Lalu dialek Selatan
adalah dialek Priangan yang
mencakup kota Bandung dan
sekitarnya. Sementara itu dialek
Tengah Timur adalah dialek di
Kabupaten Majalengka dan
Indramayu. Dialek Timur Laut adalah
dialek di sekitar Cirebon dan
Kuningan, juga di beberapa
kecamatan di Kabupaten Brebes dan
Tegal, Jawa Tengah. Dan akhirnya
dialek Tenggara adalah dialek sekitar
Ciamis, juga di beberapa kecamatan
di Kabupaten Cilacap dan Banyumas,
Jawa Tengah.
Kesenian
Seni tari
Seni tari utama dalam Suku Sunda
adalah tari jaipongan, tari merak,
dan tari topeng.
Tanah Sunda (Pasundan) dikenal
memiliki aneka budaya yang unik
dan menarik, Jaipongan adalah salah
satu seni budaya yang terkenal dari
daerah ini. Jaipongan atau Tari
Jaipong sebetulnya merupakan tarian
yang sudah moderen karena
merupakan modifikasi atau
pengembangan dari tari tradisional
khas Sunda yaitu Ketuk Tilu. Tari
Jaipong ini dibawakan dengan
iringan musik yang khas pula, yaitu
degung. Musik ini merupakan
kumpulan beragam alat musik
seperti gendang , gong, saron, kacapi,
dsb. Degung bisa diibaratkan
'Orkestra' dalam musik Eropa/
Amerika. Ciri khas dari Tari Jaipong
ini adalah musiknya yang
menghentak, dimana alat musik
kendang terdengar paling menonjol
selama mengiringi tarian. Tarian ini
biasanya dibawakan oleh seorang,
berpasangan atau berkelompok.
Sebagai tarian yang menarik, Jaipong
sering dipentaskan pada acara-acara
hiburan, selamatan atau pesta
pernikahan.
Wayang Golek
Tanah Sunda terkenal dengan
kesenian Wayang Golek-nya. Wayang
Golek adalah pementasan sandiwara
boneka yang terbuat dari kayu dan
dimainkan oleh seorang sutradara
merangkap pengisi suara yang
disebut Dalang. Seorang Dalang
memiliki keahlian dalam menirukan
berbagai suara manusia. Seperti
halnya Jaipong, pementasan Wayang
Golek diiringi musik Degung lengkap
dengan Sindennya. Wayang Golek
biasanya dipentaskan pada acara
hiburan, pesta pernikahan atau
acara lainnya. Waktu pementasannya
pun unik, yaitu pada malam hari
(biasanya semalam suntuk) dimulai
sekitar pukul 20.00 – 21.00 hingga
pukul 04.00 pagi. Cerita yang
dibawakan berkisar pada pergulatan
antara kebaikan dan kejahatan
(tokoh baik melawan tokoh jahat).
Cerita wayang yang populer saat ini
banyak diilhami oleh budaya Hindu
dari India, seperti Ramayana atau
Perang Baratayudha. Tokoh-tokoh
dalam cerita mengambil nama-nama
dari tanah India. Dalam Wayang
Golek, ada ‘tokoh’ yang sangat
dinantikan pementasannya yaitu
kelompok yang dinamakan
Purnakawan, seperti Cepot, Dawala,
dan Gareng. Tokoh-tokoh ini
digemari karena mereka merupakan
tokoh yang selalu memerankan peran
lucu (seperti pelawak) dan sering
memancing gelak tawa penonton.
Seorang Dalang yang pintar akan
memainkan tokoh tersebut dengan
variasi yang sangat menarik.
Seni musik
Selain seni tari, tanah Sunda juga
terkenal dengan seni suaranya.
Dalam memainkan Degung biasanya
ada seorang penyanyi yang
membawakan lagu-lagu Sunda
dengan nada dan alunan yang khas.
Penyanyi ini biasanya seorang
wanita yang dinamakan Sinden.
Tidak sembarangan orang dapat
menyanyikan lagu yang dibawakan
Sinden karena nada dan ritme-nya
cukup sulit untuk ditiru dan
dipelajari.Dibawah ini salah salah
satu musik/lagu daerah Sunda :
Bubuy Bulan Es Lilin Manuk Dadali
Tokecang Warung Pojok
1. Calung
Calung adalah alat musik Sunda
yang merupakan prototipe dari
angklung. Berbeda dengan angklung
yang dimainkan dengan cara
digoyangkan, cara menabuh calung
adalah dengan mepukul batang
(wilahan, bilah) dari ruas-ruas
(tabung bambu) yang tersusun
menurut titi laras (tangga nada)
pentatonik (da-mi-na-ti-la). Jenis
bambu untuk pembuatan calung
kebanyakan dari awi wulung (bambu
hitam), namun ada pula yang dibuat
dari awi temen (bambu yang
berwarna putih).
2. Angklung
Angklung adalah sebuah alat atau
waditra kesenian yang terbuat dari
bambu khusus yang ditemukan oleh
Bapak Daeng Sutigna sekitar tahun
1938. Ketika awal penggunaannya
angklung masih sebatas kepentingan
kesenian lokal.
Rumah Adat
Rumah tradisional Sunda suhunan
Julang Ngapak di Papandak, Garut
Secara tradisional rumah orang
Sunda berbentuk panggung dengan
ketinggian 0,5 m - 0,8 m atau 1
meter di atas permukaan tanah.
Pada rumah-rumah yang sudah tua
usianya, tinggi kolong ada yang
mencapai 1,8 meter. Kolong ini
sendiri umumnya digunakan untuk
tempat mengikat binatang-binatang
peliharaan seperti sapi, kuda, atau
untuk menyimpan alat-alat pertanian
seperti cangkul, bajak, garu dan
sebagainya. Untuk naik ke rumah
disediakan tangga yang disebut
Golodog yang terbuat dari kayu atau
bambu, yang biasanya terdiri tidak
lebih dari tiga anak tangga. Golodog
berfungsi juga untuk membersihkan
kaki sebelum naik ke dalam rumah.
Rumah adat Sunda sebenarnya
memiliki nama yang berbeda-beda
bergantung pada bentuk atap dan
pintu rumahnya. Secara tradisional
ada atap yang bernama suhunan
Jolopong, Tagong Anjing, Badak
Heuay, Perahu Kemureb, Jubleg
Nangkub, Capit Gunting, dan Buka
Pongpok. Dari kesemuanya itu,
Jolopong adalah bentuk yang paling
sederhana dan banyak dijumpai di
daerah-daerah cagar budaya atau di
desa-desa.
Jolopong memiliki dua bidang atap
yang dipisahkan oleh jalur suhunan
di tengah bangunan rumah. Batang
suhunan sama panjangnya dan
sejajar dengan kedua sisi bawah
bidang atap yang sebelah
menyebelah, sedangkan lainnya
lebih pendek dibanding dengan
suhunan dan memotong tegak lurus
di kedua ujung suhunan itu.
Interior yang dimiliki Jolopong pun
sangat efisien. Ruang Jolopong
terdiri atas ruang depan yang
disebut emper atau tepas; ruangan
tengah disebut tengah imah atau
patengahan; ruangan samping
disebut pangkeng (kamar); dan
ruangan belakang yang terdiri atas
dapur yang disebut pawon dan
tempat menyimpan beras yang
disebut padaringan. Ruangan yang
disebut emper berfungsi untuk
menerima tamu. Dulu, ruangan ini
dibiarkan kosong tanpa perkakas
atau perabot rumah tangga seperti
meja, kursi, ataupun bale-bale
tempat duduk. Jika tamu datang
barulah yang empunya rumah
menggelarkan tikar untuk duduk
tamu. Seiring waktu, kini sudah
disediakan meja dan kursi bahkan
peralatan lainnya. Ruang
balandongan berfungsi untuk
menambah kesejukan bagi penghuni
rumah. Untuk ruang tidur,
digunakan Pangkeng. Ruangan
sejenis pangkeng ialah jobong atau
gudang yang digunakan untuk
menyimpan barang atau alat-alat
rumah tangga. Ruangan tengah
digunakan sebagai tempat
berkumpulnya keluarga dan sering
digunakan untuk melaksanakan
upacara atau selamatan dan ruang
belakang (dapur) digunakan untuk
memasak.
Ditilik dari segi filosofis, rumah
tradisional milik masyarakat Jawa
Barat ini memiliki pemahaman yang
sangat mengagumkan. Secara umum,
nama suhunan rumah adat orang
Sunda ditujukan untuk menghormati
alam sekelilingnya. Hampir di setiap
bangunan rumah adat Sunda sangat
jarang ditemukan paku besi maupun
alat bangunan modern lainnya.
Untuk penguat antar tiang
digunakan paseuk (dari bambu) atau
tali dari ijuk ataupun sabut kelapa,
sedangkan bagian atap sebagai
penutup rumah menggunakan ijuk,
daun kelapa, atau daun rumia,
karena rumah adat Sunda sangat
jarang menggunakan genting. Hal
menarik lainnya adalah mengenai
material yang digunakan oleh rumah
itu sendiri. Pemakaian material bilik
yang tipis dan lantai panggung dari
papan kayu atau palupuh tentu
tidak mungkin dipakai untuk tempat
perlindungan di komunitas dengan
peradaban barbar. Rumah untuk
komunitas orang Sunda bukan
sebagai benteng perlindungan dari
musuh manusia, tapi semata dari
alam berupa hujan, angin, terik
matahari dan binatang.
Sistem Kekerabatan
Akad nikah adat Sunda di depan
penghulu dan saksi.
Sistem keluarga dalam suku Sunda
bersifat bilateral, garis keturunan
ditarik dari pihak bapak dan ibu.
Dalam keluarga Sunda, bapak yang
bertindak sebagai kepala keluarga.
Ikatan kekeluargaan yang kuat dan
peranan agama Islam yang sangat
mempengaruhi adat istiadat
mewarnai seluruh sendi kehidupan
suku Sunda. Dalam suku Sunda
dikenal adanya pancakaki yaitu
sebagai istilah-istilah untuk
menunjukkan hubungan
kekerabatan. Dicontohkannya,
pertama, saudara yang berhubungan
langsung, ke bawah, dan vertikal.
Yaitu anak, euncu (cucu), buyut
(piut), bao, canggahwareng atau
janggawareng, udeg-udeg, kaitsiwur
atau gantungsiwur. Kedua, saudara
yang berhubungan tidak langsung
dan horizontal seperti anak paman,
bibi, atau uwak, anak saudara kakek
atau nenek, anak saudara piut.
Ketiga, saudara yang berhubungan
tidak langsung dan langsung serta
vertikal seperti keponakan anak
kakak, keponakan anak adik, dan
seterusnya. Dalam bahasa Sunda
dikenal pula kosa kata sajarah dan
sarsilah (salsilah, silsilah) yang
maknanya kurang lebih sama dengan
kosa kata sejarah dan silsilah dalam
bahasa Indonesia. Makna sajarah
adalah susun galur/garis keturunan.
Masakan Khas
Artikel utama untuk bagian ini
adalah: Masakan Sunda
Beberapa jenis makanan jajanan
tradisional Indonesia yang berasal
dari tanah sunda, seperti sayur
asem, sayur lodeh, pepes, lalaban,
dll.
Profesi
Mayoritas masyarakat Sunda
berprofesi sebagai petani, dan
berladang, ini disebabkan tanah
Sunda yang subur.[6] Sampai abad
ke-19, banyak dari masyarakat Sunda
yang berladang secara berpindah-
pindah.
Selain bertani, masyarakat Sunda
seringkali memilih untuk menjadi
pengusaha dan pedagang sebagai
mata pencariannya, meskipun
kebanyakan berupa wirausaha kecil-
kecilan yang sederhana, seperti
menjadi penjaja makanan keliling,
membuka warung atau rumah
makan, membuka toko barang
kelontong dan kebutuhan sehari-
hari, atau membuka usaha cukur
rambut, di daerah perkotaan ada
pula yang membuka usaha
percetakan, distro, cafe, rental mobil
dan jual beli kendaraan bekas.
Profesi pedagang keliling banyak
pula dilakoni oleh masyarakat Sunda,
terutama asal Tasikmalaya dan
Garut. Chairul Tanjung dan Eddy
Kusnadi Sariaatmadja merupakan
contoh-contoh pengusaha berdarah
Sunda yang berhasil. Chairul
Tanjung dan Eddy Kusnadi
Sariaatmadja bahkan masuk ke
dalam daftar 40 orang terkaya di
Indonesia yang dirilis majalah
Forbes pada tanggal 29 November
2012.
Profesi lainnya yang banyak dilakoni
oleh orang Sunda adalah sebagai
pegawai negeri, penyanyi, seniman,
dokter, diplomat dan pengusaha.

Sumber : wikipedia